Kenapa Program RSBI Gagal Total?

Sebagai salah satu pengajar program RSBI saya merenung. Kenapa program RSBI yang dicanangkan pemerintah gagal total? Sebuah pertanyaan yang justru saya tanyakan kepada diri saya sendiri sebagai guru.
Program RSBI sebenarnya bagus. Tapi sayangnya sumber daya manusia (SDM) guru kita belum siap menerimanya. Sementara pemerintah lebih menekankan kepada fasilitas daripada SDM guru.
Seharusnya SDM guru dulu yang ditingkatkan, baru kemudian fasilitas.
Pemerintah lupa dan mungkin belum membaca novel laskar pelangi karya andrea Hirata, dan 5 menara karya Ahmad Fuadi. Kedua novel itu diangkat ke layar perak karena sangat bagus dan go internasional.
Dalam sekolah laskar pelangi ada guru yang unggul di disitu. Fasilitas yang tak layak untuk belajar tak menjadikannya patah semangat mendidik anak bangsa. Baginya alam adalah fasilitas terbesar untuk menginspirasinya bahwa belajar tak melulu di dalam kelas tetapi bisa di luar kelas. Terjadi interaksi antara guru dan muridnya yang akrab sekali.
Begitupun dengan kisah 5 menara dengan mantra motivasinya. “Man jadda wa jada”. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Guru mampu memotivasi para peserta didiknya untuk bersaing di dunia global.
Sekolah tradisional kita sebenarnya tak kalah mutunya dengan sekolah internasional. Bahkan kalau mau jujur, sekolah international mengajarkan kearifan lokal yang ujung-ujungnya menggali kekayaan intelektul sekolah tradisional.
Terus terang, kita masih belum memiliki guru-guru unggul yang mengerti akan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru. Pada akhirnya program RSBI itu menjadi gagal total karena pemerintah belum mampu melatih atau mentraining guru-guru agar mampu menjadi guru tangguh berhati cahaya. Hal yang ada adalah sebatas pelaksanaan program yang evaluasinya seringkali tidak dilakukan. Itulah mengapa kegiatan-kegiatan yang dilakukan kurang mengena di hati guru.
Sekolah RSBI seharusnya mencontoh sekolah-sekolah laskar pelangi dan 5 menara. Tak perlu studi banding keluar negeri karena pemimpin bangsa seperti Sukarno dan Suharto terbina dari sekolah tradisional itu.
Hal yang terpenting diutamakan adalah peningkatan kualitas atau mutu guru harus terus menerus dilakukan bukan hanya sekedar mampu berbahasa inggris tetapi mereka juga mampu menguasai materi dengan baik dan menguasai berbagai metode pembelajaran.
Pemerintah dalam hal ini kemendikbud harus mampu membuat program yang mampu meningkatkan mutu guru sehingga mereka menjadi guru tangguh berhati cahaya. Guru yang pantang mengeluh dan kreatif dalam mengembangkan pembelajarannya. Terus belajar sepanjang hayat dan tidak pelit beli buku.
Program RSBI kita terlalu berkiblat ke barat dan seolah-olah tak pede dengan kemampuan sendiri. Seharusnya kita belajar ke negeri china untuk soal pendidikan dan bukan ke Amerika Serikat.
Semoga kita bisa belajar dari sekolah-sekolah di china yang unggul dalam SDM, dan perekonomiannya. Orang Asia sharusnya belajar dengan orang Asia yang satu rumpun karena kita memiliki karakter budaya yang sama.
Ketika nabi Muhammad SAW menyebarkan Islam dari arab ke seluruh dunia, beliau selalu mengajak umatnya untuk belajar ke negeri china. Itu artinya pernyataan beliau masih relevan hingga saat ini.
Akhirnya, saya harus menutup tulisan ini dengan sebuah kesimpulan bahwa RSBI gagal total dikarenakan kita belum mampu menyiapkan guru-guru tangguh berhati cahaya dan kita terlalu berkiblat ke barat dan melupakan ke timur. Kita lupa bahwa kejujuran, kepercayaan, kebenaran, dan kecerdasan sudah ada dalam ajaran kitab suci yang sudah internasional. Kita lupa bahwa Indonesia adalah negara besar yang memiliki Sukarno yang dikagumi dunia internasional, padahal beliau cuma sekolah di sekolah laskar pelangi dan 5 menara. Mengapa para pejabat tak pernah belajar dari pemimpin bangsa terdahulu?
Salam blogger persahabatan
Omjay
Http://wijayalabs.com

Teacher, Trainer, Motivator, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, Workshop PTK dan TIK, Eduprenership, serta Praktisi ICT. Sering diundang di berbagai Seminar dan Workshop sebagai Pembicara di tingkat Nasional. Dirinya telah berkeliling hampir penjuru nusantara. Semua perjalanan itu ia selalu tuliskan di 




















Pojok Pradna Said,
January 5, 2012 @ 2:51 pm
akhirnya yang ada adalah : sekolah mahal dan (sedikit) tidak mahal
M Arbain Arizandy Said,
January 5, 2012 @ 10:58 pm
Benar Omjay…saya setuju…karena keberhasilan pendidikan 80% ada di tangan Guru selebihnya ada pada faktor pendukung lainnya termasuk fasilitas, ORTU, pemerintah, n lingkungan.
Salam Guru Blogger
Salam Guru TOT ICT
Bundanya Rafi Said,
January 6, 2012 @ 1:09 am
miris memang.
pemerintah mulai meningkatkan kesejahteraan guru (yg selalu digadang-gadangkan sebagai dasar ketidak profesinalan guru) dengan program sertifikasi tetapi yang didapat pemerintah adalah guru yang jauh lebih tidak profesional dari sebelum adanya program ini. meskipun itu hanya sebagian besar. masih ada juga guru yang tanpa tunjangan sertifikasi menjalankan tugas kesehariannya dengan hati….
semoga saya menjadi bagian dari segelintir kecil guru yang mendidik, mengajar dan menyayangi murid2 dengan hati…
salam kenal om Jay
Ridwan Fakih Said,
January 11, 2012 @ 10:31 pm
Komentar tentang RSBI.
Saya ingin mengomentari tulisan Omjay “Program RSBI sebenarnya bagus. Tapi sayangnya sumber daya manusia (SDM) guru kita belum siap menerimanya. Sementara pemerintah lebih menekankan kepada fasilitas daripada SDM guru”
Menurut saya keberhasilan apapun termasuk dunia pendidikan itu melalui proses. Semua tidak akan terjadi secara instant.
Kwalitas Guru yang Bagus adalah juga salah satu syarat keberhasilan proses pendidikan. Guru yang berkwalitas tentu tidak mudah mendapatkannya. Karena banyak bekas guru yang mungkin bisa “potensial bagus” segera pindah kedunia yang lain. Saya kira banyak orang terkenal pernah menjadi Guru, misal dari Jendral Sudirman,samapai “Kick Andi Noya” juga pernah Profesi guru. ( Saya dulu juga pernah 4th jadi guru/dosen).
Intinya saya kira Pemerinah mencoba menciptakan sistem dan saya kira RSBI salah satu usaha. Karena kita sudah memasuki era globalisasi dimana kita (Indonesia) dipasaran tenaga kerja di luarnegeri sangat tertinggal. Saya mengalami, karena saat ini saya sudah 5 th bekerja di luar negeri, sebelumnya 25 tahun kerja diperusahaan Asing. Penguasaan Bahasa Ingris sangat menentukan dalam keberhasilan karier. Bukan Ilmu tetapi kemahirn dalm berbahasa Inggris. Sat ini kita sangat ketinggalan sekali dalam penguasan bahasa dalam hal report writing (dibanding India, Filipina ).
Saran saya simpelkan materi mata pelajaran pendidikan. Bimbinglah anak didik mahir berbahasa asing, lancar menulis dan tidak gagap IT. Jangan lupa Keahlian/ilmu, sekarang bisa dicari dari pengalaman dan Google.
Salam
Bekas Guru yang masih pengin ngajar lagi.
Ridwan Fakih Said,
January 11, 2012 @ 10:45 pm
melanjutkan saran :
Usaha untuk maju kita perlu meniru bangsa lain siapapapun dan dari manapun asal yakin membawa kebaikan, Amerika, Jepang, Belanda maupun Cina. Kalau pingin cepat “kopi/tiru” orang lain, dengan bejalannya waktu ada pengalaman “perbaiki” dan nanti kalau sudah baik kita sudah masuk tahap bersaing adakan “inovasi”.
Kadang kita setiap add yang baru, kita banyak berdebat sehingga kita menjadi lelah dan kurang istiqomqh dalam berusaha/berjalan kearah perbaikan. Pakai semboyan “Just do it”. Kalau sudah jalan dengan usaha baru..
kita berbaiki dan kalau perlu inovasi. Mari kita langsung mengkopi mana yang baik. Setuju Bapak-Bapak?
Ridwan Fakih Said,
January 11, 2012 @ 10:55 pm
Tambah lagi yha Omjay, mungkin nanti bisa disebarluaskan kekawan-kawan guru oleh Om Jay:
Jangan terlalu stres menyelesaikan kurikulum, jadi guru yang santai, akrab dengan murid dan disukai murid seperti OmJay. Oh ya, saat ini saya kerja di perusahaan minyak di luar negeri. Rasanya pengin suatu saat sambil pension saya pengin ngajar di dunia pendidikan.
wijayalabs Said,
January 12, 2012 @ 12:00 am
terima kasih banyak mas. Senang mendapatkan tambahan pengalaman dari mas Ridwan Fakih.
salam
Omjay
Ridwan Fakih Said,
January 29, 2012 @ 9:08 pm
Omjay, saya jadi ketagihan nulis diblok ini: Boleh khan1
Ada sebuah pertanyaan yang tertinggal. Apakah dalam Program RSBI ini ada program membuat”Majalah Dinding dalam Bahasa Ingris di Sekolah” Kalau sudah syukurlah. Kalau Belum. Saya usulkan.
Mungkin akan banyak alasan. Saran saya “Just Do it” but majalah dinding di Sekolah. Bisa juga Website Majalah Dinding dalam Bhs Inggis melalui Website. Ini sangat cocok dengan SMA yang berlabel Labschool bukan. Saya kenal baik denga Pak Arief Rahman dulu belia pernah saya panggil untuk presentasi.
Guru & Murid disuruh aktif mengisi sebisanya, dan jangan lupa sediakan fasilitas appresiasinya.Apresiasi bisa sebagai tambahan kurikulum “Pelajaran Kreatifitas” Berikan apresiasi pada murid yang berpartisipasi kasi nilai matapelajaran “kreatifitas ” minimal B. kalau bisa A.
Sementara ini saja usulan saya.
Selamat berbakti kepada bangsa melalui dunia pendidikan
Salam dari Kuwait
Ridwan Fakih
Zharfan Adib Ardhana Said,
January 29, 2012 @ 11:39 pm
terima kasih atas masukannya mas fakih
salam
omjay